Klaim yang terdengar meyakinkan tetap perlu diperiksa. Sebelum membagikannya, pastikan dulu apa yang sebenarnya dikatakan, dari mana asalnya, dan bagian mana yang berupa informasi atau penilaian.
BOHONG123: Periksa sumber, konteks, dan jenis klaim
Literasi media mencakup kemampuan memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media, sekaligus menyadari bagaimana pesan dibuat dan diakses [1]. Artinya, membaca sebuah klaim tidak berhenti pada bunyi kalimatnya. Cara pesan disusun dan bahan yang menopangnya juga layak diperiksa.
Mulai dari sumber dan bunyi klaim
Ringkas klaim itu dalam satu kalimat netral. Setelah itu, telusuri siapa yang menyampaikannya dan bahan apa yang dipakai untuk mendukungnya. Beberapa pertanyaan berikut membantu menjaga pemeriksaan tetap terarah:
- Siapa sumber yang disebut, dan apakah pernyataannya bisa dilihat dalam bahan asal?
- Apakah bahan tersebut mendukung klaim dengan bunyi yang sama, atau hanya membahas topik yang mirip?
- Bagian mana yang sudah ditunjukkan oleh bahan, dan bagian mana yang masih berupa tafsiran?
Jika bahan asal tersedia, cocokkan klaim dengan isinya. Jika sumber hanya disebut tanpa bahan yang bisa diperiksa, tandai klaim itu sebagai belum terkonfirmasi berdasarkan bahan yang ada. Jangan menganggap kekurangan bukti sebagai bukti bahwa klaim pasti benar ataupun pasti salah.
Periksa konteks sebelum menarik kesimpulan
Perhatikan kalimat lengkap, bagian tulisan atau siaran tempat klaim muncul, serta waktu yang sedang dibicarakan. Jika yang beredar hanya kutipan singkat, cari tahu siapa atau apa yang dirujuk dan batas pernyataannya. Langkah ini membantu memastikan penilaian tidak melampaui isi yang benar-benar tersedia.
Judul, ringkasan, dan kutipan dapat menjadi petunjuk untuk menemukan klaim, tetapi jangan jadikan salah satunya pengganti pemeriksaan terhadap pernyataan yang hendak dibagikan. Jika konteksnya belum jelas, catat bagian yang masih belum diketahui alih-alih mengisi kekosongan dengan dugaan.
Pisahkan klaim faktual dari opini
Sebagai cara kerja, tempatkan pernyataan yang dapat dicocokkan dengan bahan sebagai klaim faktual yang perlu diuji. Tempatkan penilaian atau tafsiran sebagai opini, lalu lihat apakah penulis menjelaskan dasar penilaiannya. Satu kalimat bahkan bisa memuat keduanya.
Misalnya, dalam contoh hipotetis, "rapat dimulai setelah waktu yang dijadwalkan dan berlangsung terlalu lama" memuat dua hal berbeda: kapan rapat dimulai, yang dapat diperiksa lewat catatan, dan penilaian "terlalu lama", yang bergantung pada ukuran atau sudut pandang yang dipakai. Memisahkannya membuat jelas bagian mana yang perlu bukti dan bagian mana yang perlu dijelaskan sebagai opini.
Simpulkan apa yang diketahui sebelum membagikan
Literasi media juga mencakup evaluasi dan komunikasi atas pesan yang diterima. Uraian tentang literasi media turut mengaitkan kemampuan memproduksi media dengan kemampuan menganalisis dan mengevaluasi pesan [1]. Karena itu, sebelum meneruskan klaim, susun kesimpulan yang sepadan dengan pemeriksaan: apa yang didukung bahan, apa yang merupakan opini, dan apa yang belum terjawab.
Klaim yang meyakinkan boleh menjadi awal perhatian, bukan akhir pemeriksaan. Sumber menunjukkan dari mana pernyataan datang, konteks membatasi maknanya, dan pemisahan fakta dari opini membantu menjaga kesimpulan tetap sesuai dengan bukti yang benar-benar ada.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia β Literasi media. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29986627&title=Literasi_media (diakses 2026-10-02).